Laman

Jumat, 02 Juni 2017

Nelayan Tua Dari Alu Naga

Gambar sisip 1 

            Kala senja sore menjelang malam. Tepatnya pukul 04:00 WIB bada asar, Banglah sebutan bagi sipria tua renta yang bernama Abdullah, mulai bergegas hendap menyiapkan jaring untuk menangkap  ikan dilepas pantai. Sosok tua yang tak pernah lelah dengan wajah yang berkerut khusam dan mata yang dalam, namun ia selalu penuh dengan senyuman harapan.


Inilah dia Abdulah Amin yang disebut oleh orang-orang sekampungnya Banglah, lelaki yang mencerminkan sesosok yang beridentitas lelaki sejati sebagai nelayan didesanya.

Sore hari senja telah tiba, Banglah bersiap diri hendak pergi untuk melaut mencari nafkah. Sebelum berangkat menuju kepantai bernama alu naga, Banglah mengganti bajunya yang kusam berwarna hitam dengan penuh bolongan-bolongan serta sobek pada sekitaran pinggir baju dibawah ketiaknya. Disekujur baju itu juga terlihat penuh bekas bercak-bercak darah ikan yang mongering ditambah paduan warna kuning bercampur kecoklatan, lalu Banglah juga memakai sebuah topi bundar klasik yang dibelinya pada sebuah pasar. Inilah pakaian dinas Banglah sebagai pasukan nelayan pantai alu naga.

Ia pun pamit meninggalkan rumah, tidak lupa mengucapkan salam kepada istrinya Aminah serta pada kedua anaknya Fitri dan Adli yang masih berumur 14 dan 12 tahun. Tiba dipantai Banglah langsung menyiapkan perangkap jaringnya mengelilingi sekujur pantai alu naga membentangi sebahagian alam dengan kedalaman air satu hingga dua meter dengan iringan tarian air yang begitu deras hingga hemparan ombak pada sekujur pantai yang beralunan disertai nyanyian angin kencang. Banglah tetap siap siaga tanpa pengecualian. 

Dibawah sinar terik matahari, jaring pun selesai dirintangi. setelah itu ia pula beristirah sejenak 15 menit sambil menunggu dan berharap beberapa ekor ikan menyangkut pada jaring yang telah dibentangi. Seiring beristirahat sejenak, Banglah membakar sebatang rokoknya, bertuliskan angka dua tiga empat pada bungkus rokok tersebut. Dalam santainya membakar rokok itu, ia pun bercerita mengenai kehidupannya saban hari menjadi nelayan yang penuh dengan keluh kesah dan beribu ritangan serta cobaan dalam kehidupan yang ia lalui semasa hidup sebagai seorang nelayan.

Banglah mengutarakan ia sudah 30 tahun lebih menjadi seorang nelayan, profesi ini sudah dilaluinya sejak muda dan inipun adalah profesi yang juga diwarisi oleh orang tua dan nenek moyang dari turun-temurun semenjak zaman dahulu kala.

Dalam keseharian jika musim ikan, Ia bisa mendapatkan penghasilan lebih baik, kadang mendapatkan uang mencapai Rp.50.000 hingga Rp.200.000. perharinya. Namun sayang kini hari sudah memasuki musim panceklit, ya itu musim dimana ikan jarang didapati oleh para pelaut pantai, seban harinya hanya cukup untuk makan keluarga dan tidak lebih untuk membeli kebutuhan lainnya, seperti pakaian, biaya sekolah anak dan alat rumah tangga lainnya yang dibutuhkan oleh keluarga. Penghasilan dimusim panceklit biasanya hanya sekitar Rp.5.000 hingga paling banyak sekitar Rp.45.000 rupiah saja. Itupun jarang didapatkan.

Sebatang rokok pun telah habis dihirup, Banglah pula bangun lalu bergegas menuju pantai dimana tempat jaring dirintangkan. Lalu di tariknya kedarat hingga semua jaring yang ada dipantai telah ditengahi kedaratan.  Alhamdulillah, hari ini ikan lumayan ada. Cukup untuk makan keluarga, dan selebihnya dijual laku dengan harga Rp.15.000 rupiah.

Hingga akhirnya Banglah pulang kerumah dengan senyuman ceria terlihat dari raut wajahnya, tersinar pancaran cahaya dari matanya dengan senang hati dia melangkah kerumah, mengucapkan salam, sambari mencuci kaki dan duduk beristirahat melepas penat, lalu iapun mandi membersihkan diri untuk menghadap kepada sang maha kuasa, semenunggu adzan  maggrib akan segera tiba.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar