Kala senja sore menjelang malam. Tepatnya pukul 04:00 WIB
bada asar, Banglah sebutan bagi sipria tua renta yang bernama Abdullah, mulai bergegas hendap menyiapkan jaring untuk menangkap ikan dilepas pantai. Sosok tua yang tak pernah lelah dengan
wajah yang berkerut khusam dan mata yang dalam, namun ia selalu penuh dengan senyuman harapan.
Inilah dia Abdulah Amin yang disebut oleh orang-orang sekampungnya Banglah, lelaki yang mencerminkan sesosok yang beridentitas lelaki sejati sebagai nelayan didesanya.
Inilah dia Abdulah Amin yang disebut oleh orang-orang sekampungnya Banglah, lelaki yang mencerminkan sesosok yang beridentitas lelaki sejati sebagai nelayan didesanya.
Sore hari senja telah tiba, Banglah bersiap diri hendak pergi untuk melaut mencari nafkah. Sebelum berangkat menuju kepantai bernama alu naga, Banglah
mengganti
bajunya yang kusam berwarna hitam dengan penuh bolongan-bolongan serta sobek pada sekitaran pinggir baju dibawah ketiaknya. Disekujur
baju itu juga terlihat penuh bekas bercak-bercak darah ikan yang mongering ditambah paduan warna kuning bercampur kecoklatan, lalu Banglah juga memakai sebuah topi bundar klasik yang
dibelinya pada sebuah pasar. Inilah pakaian dinas Banglah sebagai
pasukan nelayan pantai alu naga.
Ia pun pamit meninggalkan rumah, tidak lupa
mengucapkan salam kepada istrinya Aminah serta pada
kedua anaknya Fitri dan
Adli yang masih berumur 14 dan 12 tahun. Tiba dipantai Banglah langsung menyiapkan perangkap jaringnya mengelilingi sekujur
pantai alu naga membentangi sebahagian alam dengan kedalaman air satu
hingga dua meter dengan iringan tarian air yang begitu deras hingga hemparan ombak pada sekujur pantai yang beralunan disertai nyanyian angin kencang. Banglah tetap siap
siaga tanpa pengecualian.
Dibawah sinar terik matahari, jaring pun selesai dirintangi. setelah itu ia pula beristirah sejenak 15 menit sambil menunggu dan berharap beberapa ekor ikan menyangkut pada jaring yang telah
dibentangi. Seiring beristirahat sejenak, Banglah membakar sebatang rokoknya, bertuliskan angka dua tiga empat pada bungkus
rokok tersebut. Dalam santainya membakar rokok itu, ia pun bercerita
mengenai kehidupannya saban hari menjadi nelayan yang penuh dengan keluh
kesah dan beribu ritangan serta cobaan dalam kehidupan yang ia lalui semasa hidup sebagai seorang nelayan.
Banglah mengutarakan ia sudah 30 tahun lebih menjadi seorang nelayan, profesi ini sudah dilaluinya sejak muda dan inipun
adalah profesi yang juga diwarisi oleh orang tua dan nenek moyang dari
turun-temurun semenjak zaman dahulu kala.
Dalam keseharian jika musim ikan, Ia bisa mendapatkan penghasilan
lebih baik, kadang mendapatkan uang mencapai Rp.50.000 hingga Rp.200.000.
perharinya. Namun sayang kini hari sudah memasuki musim panceklit, ya itu musim
dimana ikan jarang didapati oleh para pelaut pantai, seban harinya hanya cukup untuk makan
keluarga dan tidak lebih untuk membeli kebutuhan lainnya, seperti pakaian, biaya sekolah anak dan alat rumah tangga lainnya yang dibutuhkan oleh keluarga. Penghasilan
dimusim panceklit biasanya hanya sekitar Rp.5.000 hingga paling banyak sekitar
Rp.45.000 rupiah saja. Itupun jarang didapatkan.
Sebatang rokok pun telah habis dihirup, Banglah pula bangun lalu
bergegas menuju pantai dimana tempat jaring dirintangkan. Lalu di tariknya kedarat
hingga semua jaring yang ada dipantai telah ditengahi kedaratan. Alhamdulillah, hari ini ikan lumayan ada. Cukup
untuk makan keluarga, dan selebihnya dijual laku dengan harga Rp.15.000 rupiah.
Hingga akhirnya Banglah pulang kerumah dengan senyuman ceria terlihat dari raut
wajahnya, tersinar pancaran cahaya dari matanya dengan senang hati dia
melangkah kerumah, mengucapkan salam, sambari mencuci kaki dan duduk
beristirahat melepas penat, lalu iapun mandi membersihkan diri untuk menghadap kepada sang maha kuasa, semenunggu adzan maggrib akan segera tiba.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar