![]() |
| Sumber Google |
Ia hanyalah buruh yang berupah dua ribu rupiah, namun hari-harinya hanyalah benalu jelata dari kalangan rakyat proletar pelosok negeri yang serakah.
Rumahnya adalah bumi beralaskan tanah, atapnya ialah langit dihiasi awan dan rembulan ketika malam dan matahari ketika pagi.
Kini ia adalah gergaji, yaitu temannya teman yang paling romantis diantara kayu-kayu dibalik jeruji.
Hidupnya dipertaruhkan pada setangkai sikat yang menyulap sepatu usang menjadi indah.
Terkadang pula hidupnya seperti sebatang palu yang selalu memukul paku yang tak bersalah.
Apapun itu kini ia hanya jemari diantara bayang-bayang keranjang sampah para penguasa. ia hidup bagaikan gelombang, terhempas-hempas ditepian manusia.
Hingga hakhir hayatnya ia hanyalah bagaikan waktu yang terlupakan oleh jarum jam dilengan kita diantara penguasa negeri sampah serapah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar